Pulau Jawa merupakan pusat ekonomi, sosial, dan demografi Indonesia, sekaligus rumah bagi lebih dari separuh populasi nasional dalam wilayah yang relatif kecil dan sangat terurbanisasi. Sebuah studi oleh Hendrawan et al. (2024) berbasis simulasi iklim regional beresolusi tinggi (CORDEX Southeast Asia) memberikan gambaran yang semakin jelas bahwa Jawa akan menghadapi perubahan iklim yang signifikan pada akhir abad ke-21, terutama dalam bentuk peningkatan suhu ekstrem dan penurunan curah hujan di banyak wilayah. Dengan menggunakan dua skenario emisi (RCP4.5 dan RCP8.5), penelitian ini menunjukkan bahwa Jawa berpotensi mengalami penurunan curah hujan tahunan sebesar sekitar 7% hingga 16%, disertai peningkatan suhu maksimum harian hingga lebih dari 3°C pada skenario emisi tinggi. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi kondisi iklim rata-rata, tetapi juga secara signifikan meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian ekstrem yang memiliki dampak langsung terhadap sistem sosial-ekonomi di pulau tersebut.
Temuan utama dari studi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim di Jawa akan ditandai oleh pola yang semakin kontras antara musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau diproyeksikan menjadi lebih kering dan lebih panas, sementara musim hujan cenderung menunjukkan intensifikasi kejadian hujan ekstrem, terutama di wilayah pegunungan. Kondisi ini menciptakan risiko hidrometeorologi yang semakin kompleks, di mana wilayah dataran rendah yang menjadi pusat populasi dan aktivitas ekonomi cenderung mengalami peningkatan kekeringan, sementara wilayah hulu menghadapi risiko banjir bandang dan longsor akibat intensifikasi curah hujan ekstrem. Pola ketidakseimbangan spasial ini menunjukkan bahwa risiko iklim di Jawa tidak bersifat homogen, melainkan sangat bergantung pada karakteristik topografi dan penggunaan lahan.
Dari sisi paparan populasi, hasil studi menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim akan dirasakan secara luas oleh masyarakat Jawa. Penurunan curah hujan ekstrem diperkirakan dapat memengaruhi antara 27% hingga 73% populasi, tergantung pada skenario emisi yang digunakan. Selain itu, lebih dari 60% penduduk Jawa berpotensi terpapar peningkatan suhu ekstrem di atas 3°C pada skenario emisi tinggi, yang mengindikasikan peningkatan risiko heat stress, penurunan produktivitas tenaga kerja, serta meningkatnya kebutuhan energi untuk pendinginan di wilayah perkotaan. Dengan konsentrasi penduduk yang tinggi di kawasan pesisir dan dataran rendah, seperti Jabodetabek, Pantura, dan kawasan metropolitan lainnya, tekanan terhadap sistem air dan infrastruktur kota diperkirakan akan meningkat secara signifikan.
Selain dampak terhadap populasi, sektor penggunaan lahan seperti pertanian dan kehutanan juga menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap perubahan iklim ini. Studi menunjukkan bahwa lahan pertanian, khususnya sawah di wilayah dataran rendah seperti Pantura Jawa dan lembah sungai utama, akan mengalami peningkatan risiko kekeringan akibat penurunan curah hujan dan peningkatan hari kering berturut-turut. Pada saat yang sama, intensifikasi hujan ekstrem di wilayah pegunungan dapat meningkatkan risiko erosi, banjir bandang, dan longsor, yang juga berdampak pada kawasan hutan dan daerah tangkapan air. Kondisi ini memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan pangan nasional, mengingat Jawa merupakan lumbung padi utama Indonesia.

Dari perspektif kebijakan publik, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tantangan utama ke depan bukan hanya terletak pada peningkatan rata-rata suhu atau penurunan curah hujan, tetapi pada meningkatnya frekuensi kejadian ekstrem yang terjadi secara simultan atau “compound risks”. Kombinasi antara panas ekstrem, kekeringan, dan hujan ekstrem menciptakan tekanan multidimensi terhadap sistem sosial-ekologis yang ada. Oleh karena itu, pendekatan adaptasi yang bersifat sektoral dan reaktif tidak lagi memadai untuk menjawab kompleksitas risiko yang muncul. Diperlukan pendekatan yang lebih terintegrasi yang menghubungkan pengelolaan air, perencanaan tata ruang, sistem pertanian, serta kebijakan kesehatan publik dalam satu kerangka adaptasi perubahan iklim.
Implikasi kebijakan yang paling mendesak adalah kebutuhan untuk memperkuat manajemen sumber daya air secara terpadu dari hulu hingga hilir, termasuk peningkatan kapasitas penyimpanan air, efisiensi irigasi, serta perlindungan terhadap cadangan air tanah di wilayah perkotaan. Selain itu, sektor pertanian perlu melakukan transformasi melalui penyesuaian kalender tanam, pengembangan varietas tanaman tahan panas dan kering, serta diversifikasi sistem produksi untuk mengurangi ketergantungan pada pola curah hujan yang semakin tidak stabil. Di wilayah perkotaan, perencanaan kota perlu mengintegrasikan risiko panas ekstrem melalui peningkatan ruang hijau, desain infrastruktur yang adaptif terhadap suhu tinggi, serta penguatan sistem kesehatan masyarakat dalam menghadapi suhu tinggi. Pada saat yang sama, sistem peringatan dini terhadap banjir, kekeringan, dan suhu tinggi perlu diperkuat agar dapat memberikan respons yang lebih cepat dan tepat terhadap kejadian ekstrem.
Secara keseluruhan, hasil studi ini menegaskan bahwa Pulau Jawa sedang memasuki fase perubahan iklim yang ditandai oleh peningkatan risiko ekstrem yang signifikan, baik dari sisi suhu maupun curah hujan. Dengan posisi Jawa sebagai pusat ekonomi dan demografi Indonesia, dampak dari perubahan ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki implikasi nasional terhadap ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
“Oleh karena itu, adaptasi terhadap perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai agenda jangka panjang, melainkan sebagai kebutuhan kebijakan yang mendesak dan harus diintegrasikan ke dalam seluruh aspek perencanaan pembangunan. Tanpa intervensi yang tepat dan terkoordinasi, tekanan iklim yang meningkat berpotensi melampaui kapasitas adaptif sistem yang ada, dengan konsekuensi yang luas bagi keberlanjutan pembangunan Indonesia.
Referensi:
Hendrawan, V. S. A., Mawandha, H. G., Sakti, A. D., Karlina, Andika, N., Shahid, S., & Jayadi, R. (2024). Future exposure of rainfall and temperature extremes to the most populous island of Indonesia: A projection based on CORDEX simulation. International Journal of Climatology, 44(10), 3529-3547.




