Pembagian zona musim (ZOM) sudah lama menjadi acuan prakiraan musim di Indonesia. BMKG, telah melakukan pemutakhiran ZOM untuk periode 1991–2020 (ZOM5120).
ZOM menggunakan tiga tipe umum berdasarkan bentuk pola klimatologi curah hujan: Monsunal, Ekuatorial, dan Lokal:
- 1. Monsunal: satu puncak hujan dan satu periode kering, dengan puncak hujan terjadi pada periode puncak monsun Asia (sekitar akhir atau awal tahun).
- 2. Ekuatorial: dua puncak hujan dalam setahun.
- 3. Lokal: satu puncak hujan dan satu periode kering, tetapi puncaknya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Dengan dengan menggunakan definisi BMKG, kamu menggunakan pendekatan data hujan satelit grid CHIRPS v2.0 selama periode 1981–2020. Data dianalisis klimatologi bulanannya, lalu setiap grid diklasifikasi dengan definisi ZOM BMKG. Pertama, deteksi dua puncak terlebih dulu (ekuatorial), lalu cek apakah puncak tunggal jatuh pada jendela monsun Asia (monsunal) atau tidak (lokal). Hasilnya ada pada Gambar 1.
ZOM versi CHIRPS 1981-2020
Secara garis besar, peta menunjukkan pola hujan Indonesia. Pendekatan per piksel ini ternyata cukup menghasilkan struktur spasial yang koheren dengan delineasi ZOM eksisting.
Rezim monsunal (kuning) mendominasi bagian selatan: Jawa, Bali, NTB, NTT, Sumatra bagian selatan, sebagian Kalimantan, dan dataran rendah Papua bagian selatan. Siklus rata-ratanya khas, satu puncak tinggi sekitar Desember–Januari (di atas 300 mm/bulan) dan satu lembah kering tegas sekitar Agustus (sekitar 110 mm/bulan). Amplitudo tahunannya besar yang merupakan ciri wilayah dengan musim hujan dan kemarau yang jelas.
Rezim ekuatorial (hijau) menempati Sumatra bagian tengah hingga utara, pedalaman Kalimantan, dan sebagian Sulawesi. Siklus rata-ratanya tampak relatif datar, berkisar 190 hingga 280 mm/bulan sepanjang tahun. Hujan tinggi nyaris merata, dengan amplitudo kecil. Dua puncak yang menjadi definisinya tidak tampak mencolok pada kurva rata-rata.
Rezim lokal (merah) tersebar di Indonesia timur: sebagian Maluku, sebagian Papua, dan bercak di Sulawesi bagian tengah hingga tenggara. Siklusnya adalah cerminan terbalik dari monsunal, puncak hujan justru di pertengahan tahun (Juli, sekitar 330 mm/bulan) dan lembah pada Januari–Februari. Fase yang berlawanan inilah inti dari label “lokal” menurut definisi BMKG.
Catatan
BMKG mengklasifikasi pada zona yang sudah didelineasi, sementara peta ini bekerja per piksel CHIRPS. Konsekuensinya, proporsi luas tiap tipe pada peta grid tidak akan sama dengan angka resmi ZOM5120 (sekitar 70 persen monsunal, 25 persen ekuatorial, 5 persen lokal). Sebagian karena per piksel menangkap heterogenitas mikro (topografi, efek bayangan hujan, angin lembah dan gunung) yang hilang saat zona digeneralisasi, sebagian lagi karena sifat algoritma yang dijelaskan di bawah.
Kedua, “lokal” di sini berarti “puncaknya bukan saat monsun Asia”, bukan “anomali setempat”. Perhatikan bahwa daratan Indochina di sisi utara peta ikut berwarna merah, karena wilayah tersebut didominasi monsun musim panas dengan puncak Juli–Agustus, sehingga puncaknya memang tidak jatuh pada monsun Asia boreal winter. Tetapi ini mengingatkan kita bahwa kategori “lokal” pada kerangka ini bersifat definisional, bukan diagnosis bahwa suatu daerah punya keunikan iklim yang ekstrem..
Ketiga, kurva ekuatorial yang datar adalah artefak rata-rata, bukan bukti pola tunggal. Wilayah ekuatorial memang berpola dua puncak, tetapi waktu puncaknya bergeser sedikit dari satu lokasi ke lokasi lain. Saat ribuan piksel ekuatorial dirata-ratakan menjadi satu kurva, dua puncak yang posisinya berbeda saling menutup dan menghasilkan kurva yang tampak rata. Jadi kurva rata-rata ekuatorial sebaiknya tidak dipakai untuk menyatakan “ekuatorial tidak punya puncak ganda”. Untuk menampakkan bimodalitasnya, lihat piksel secara mendetil atau kelompokkan berdasarkan waktu puncak.
Implikasi untuk praktik
Bagi praktisi, nilai peta ini terletak pada kemampuannya memetakan fase musim, bukan sekadar jumlah hujan.
Untuk sumber daya air, mengetahui kapan puncak basah dan puncak kering tiap wilayah adalah dasar desain tampungan, penjadwalan operasi waduk, dan alokasi irigasi. Wilayah monsunal dan lokal memiliki fase yang berlawanan, sehingga strategi yang cocok di Jawa belum tentu masuk akal di Maluku.
Untuk pertanian, kalender tanam mengikuti fase ini. Di wilayah monsunal, awal tanam mengikuti datangnya musim hujan di sekitar Oktober–November, sementara di wilayah berpola lokal jadwalnya bergeser jauh karena puncak hujan ada di pertengahan tahun.
Untuk kebencanaan, profil risikonya pun berbeda. Monsunal menghadapi risiko banjir pada Desember–Februari dan kekeringan pada Juli–September. Ekuatorial, dengan hujan tinggi hampir sepanjang tahun, lebih rentan terhadap longsor dan banjir yang dapat terjadi kapan saja. Lokal memiliki kalender risiko yang terbalik dari monsunal.
Batasan penggunaan
Klimatologi 40 tahun menyembunyikan tren dan variabilitas antar tahun. Peta ini adalah rata-rata jangka panjang, sedangkan pada tahun El Niño atau La Niña, dan pada fase Indian Ocean Dipole tertentu, fase serta intensitas musim bisa bergeser nyata. Peta ini tidak boleh dibaca sebagai prakiraan tahun tertentu.
Data yang dipakai bulanan, sementara BMKG beroperasi pada resolusi dasarian (sepuluh harian). Penentuan awal dan puncak musim pada resolusi bulanan otomatis lebih kasar dan tidak akan persis sama dengan produk operasional.
CHIRPS, seperti semua produk satelit, memiliki bias di topografi kompleks seperti pegunungan Papua dan Sulawesi. Sebelum dipakai untuk keputusan operasional, hasil ini sebaiknya divalidasi terhadap pos hujan permukaan.
Terakhir, hasil klasifikasi sensitif terhadap pilihan ambang pada algoritma, terutama ambang prominence untuk mendeteksi dua puncak dan jendela bulan yang dianggap sebagai puncak monsun. Bercak warna yang tampak “salah tempat” di wilayah yang semestinya monsunal murni adalah tanda dari sensitivitas ini. Uji sensitivitas terhadap parameter tersebut adalah pekerjaan rumah yang wajib, bukan opsional.
Penutup dan langkah lanjut
Pendekatan grid ini bukan pengganti ZOM operasional BMKG, melainkan pelengkap yang berguna: ia menunjukkan struktur spasial pola hujan pada resolusi penuh, mengungkap heterogenitas yang biasanya hilang saat zona digeneralisasi, dan dapat diperbarui kapan saja seiring bertambahnya data.
Beberapa langkah lanjut yang masuk akal: melakukan uji sensitivitas parameter, menambahkan analisis tren dan keterkaitan dengan ENSO serta IOD, mengelompokkan piksel ekuatorial berdasarkan waktu puncak untuk memperlihatkan bimodalitas yang sebenarnya, dan memadukan peta rezim ini dengan peta awal serta puncak musim kemarau agar gambaran kalender musim menjadi utuh.
Pesan utamanya bagi peneliti dan praktisi tetap sederhana. Peta seperti ini sangat membantu untuk memahami pola, tetapi setiap angka dan setiap batas wilayah perlu diperlakukan sebagai hipotesis yang menunggu validasi, bukan sebagai kesimpulan akhir.
Data: CHIRPS v2.0, klimatologi bulanan 1981–2020. Klasifikasi rezim mengikuti definisi tiga tipe umum ZOM BMKG (ZOM5120). Analisis dilakukan per piksel grid.




